
Berdirinya Muhammadiyah di bumi Indonesia, tak bisa dilepaskan dengan KHA. Dahlan, pendirinya. Putra KH. Abu Bakar Kauman Yogyakarta ini, lahir dengan nama Muhammad Darwis, pada tahun 1868 M, dari keluarga santri. Ayahnya, khatib Masjid Besar Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sedangkan ibu kandungnya, yakni istri KH. Abu Bakar, merupakan putri dari H. Ibrahim bin H. Hasan, penghulu Kraton Kesultanan Ngayogyakarta.
Sejak kecil, Muhammad Darwis dikenal rajin menuntut ilmu. Di samping belajar dengan ayahnya, juga menuntut ilmu kepada beberapa ulama dan para ahli lainnya. Seperti belajar Ilmu Falak pada KH. Raden Dahlan (Putra Kyai Termas), belajar tentang racun berbisa kepada Syech Hasan. Ketika mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji, digunakannya untuk bermukim menuntut ilmu selama lima tahun. Demikian pula ke tanah suci yang kedua kalinya, disamping mendalami berbagai perkembangan pemikiran baru kepada para mujahid juga menjalin hubungan dengan para tokoh dunia.
Pendalaman KHA. Dahlan terhadap ayat-ayat kitab suci Al- Qur’an, khususnya surat Ali Imran ayat 104 telah mendorongnya untuk membentuk organisasi “Muhammadiyah”. Keinginan itu bertambah kuat sejalan dengan pergaulan dan pengetahuannya yang makin luas. Seperti halnya dengan para tokoh Boedi Oetomo dan Syarikat Islam yang mulai giat dalam perjuangan bidang politik melawan kaum penjajah.
Di samping itu, keadaan bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya, sangat memprihatinkan. Kemiskinan dan kebodohan merajalela. Praktek-praktek keagamaan banyak tercampur dengan perbuatan Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Sekolah- sekolah yang disediakan Pemerintah Hindia Belanda, disamping untuk masuknya sulit, juga kering dari ajaran agama dan budi pekerti yang luhur. Sementara model pondok pesantren yang berkembang, makin jauh dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Keduanya serba timpang.
Pribadi KHA. Dahlan yang makin matang dalam hal ilmu pengamalan agama, telah membentur kenyataan yang ada di masyarakat sekelilingnya, masyarakat yang sedang sakit dan perlu sentuhan perbaikan. KHA. Dahlan pun tak mau tinggal diam. Seperti halnya para pejuang reformasi yang ada kala itu, KHA. Dahlan tak mau kehilangan momentum, segera bangkit berbuat yang terbaik untuk ummat. Walau untuk itu ia harus korbankan apa saja yang dipunyainya. Tak hanya harta dan tenaganya, tapi juga kesehatan pribadinya.
Saat-saat menjelang akhir hayatnya, Kyai Dahlan disarankan oleh para dokter dan rekan-rekan seperjuangannya agar beristirahat di Tretes, Malang. H. Fachruddin dan M. Abdullah mengantarkannya. Namun sepulang kedua pengantarnya itu, KHA. Dahlan bukannya beristirahat, justru lebih giat berdakwah di sekeliling tempatnya beristirahat, hingga bisa membentuk pengajian dan mendirikan mushalla. KHA. Dahlan puas, tapi sakitnya bertambah parah. Dalam keadaan serupa itu, KHA. Dahlan masih sempat hadir dalam kongres tahun 1923, berpidato sekitar 30 menit, menekankan pentingnya berpegang pada Qur’an dan Hadist serta menjauhi segala perbuatan bid’ah yang menjerumuskan dalam api neraka. Kyai Dahlan berpendapat, istirahat berarti berhenti beralam. Padahal ia ingin terus beramal, bekerja keras untuk meletakkan dasar-dasar bagi suatu amal yang besar.
KHA. Dahlan, resmi berkecimpung dalam Muhammadiyah yang didirikannya hanya selama 11 tahun. Sebelum Muhammadiyah resmi berdiri, Kyai Dahlan telah merintis berbagai pengajian dan pertemuan dengan berbagai pihak. Pertama mengajar mengaji menggantikan ayahnya selaku khatib Masjid Besar. Karena kedalaman pengetahuan dan kemampuannya dalam mengajar, Ahmad Dahlan di samping mendapat sebutan guru juga sering dipanggil kyai. Sebutan ini makin mengentai setelah ayahnya wafat dan kedudukannya sebagai khatib ia gantikan dengan sebutan ketib Amin. Tugasnya, khutbah di Masjid Besar Kauman, piket di serambi masjid sepekan sekali serta jadi anggota. Dewan Hukum Islam atau Raad Agama Kraton Ngayogyakarta. Beda dengan khatib kraton lainnya, KHA. Dahlan kalau di Masjid aktif berdialog dan mengisi pengajian, memberi pelajaran tentang Islam kepada siapa pun yang siap mendengarkannya. Ide-ide baru dan segar mengalir dari Kyai Dahlan. Seperti upaya mengumpulkan para ulama se-Yogyakarta untuk membicarakan arah kiblat yang benar.
Ada pengalaman menarik tentang arah kiblat ini. Pembicaraan yang berlangsung hingga subuh itu tak membawa putusan. Namun ada beberapa orang yang ikut mendengarkan, langsung membuat garis putih tebal dibelakang pengimaman Masjid Besar. Arah kiblat dan shof shalat Masjid Besar Kauman berubah. Keadaan sempat jadi gempar. Garis shaf pun dihapus. Tapi surau di rumah KHA. Dahlan yang baru dibangun dan mengarah kiblat, jadi korban, Surau dibongkar secara paksa. KHA. Dahlan nyaris kecewa dan putus asa. Untung keluarga dengan tegar dan sabar menasehati, hingga KHA. Dahlan pasrah. Surau dibangun kembali sesuai arah Masjid Besar, sedangkan arah kiblatnya hanya dengan dibuatkan garis-garis miring.
Sosialisasi ide Kyai Dahlan terus berkembang. Disamping lewat berbagai pengajian rutin yang diselenggarakan, Kyai Dahlan mulai menampung para santri yang berdatangan dari berbagai kota di luar Yogyakarta. Selaku pedagang, KHA. Dahlan banyak mengadakan perjalanan ke luar kota. Dari kegiatan inilah ia menjalin relasi, membangun ukhuwah, menjalankan dakwah dan memperbanyak santri. KHA. Dahlan pun masuk menjadi anggota Boedi Oetomo (1909), juga menjadi anggota Djamiat Khoir yang bergerak dalam bidang pendidikan, dan Syarikat Islam yang lebih banyak bergerak di bidang politik.
Ahmad Dahlan tak hanya ulama pemikir, tapi juga manusia amal, manusia kerja. Walau belum mendapat dukungan dari berbagai pihak, Ahmad Dahlan bersikeras mewujudkan gagasannya mendirikan sekolah model baru dengan memadukan pendidikan Islam dan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Bermodalkan 8 siswa, dimulailah sekolah dengan menggunakan ruang tamu rumah berukuran 2,5 X 6 meter, ia bertindak sebagai guru sekaligus pimpinan sekolah. Meja dan bangku sekolah ia buat sendiri, dari bekas kotak kain mori. Ke delapan santri itu pun sering tidak masuk dan Ahmad Dahlan rajin menjenguk, menanyakannya. Syukur 6 bulan kemudian santrinya menjadi 20 orang. Siswa masuk dua kali sehari. Pagi untuk belajar ilmu agama yang diasuh KHA. Dahlan, dan sore harinya belajar ilmu umum dengan pengasuh dari guru-guru bantuan Boedi Oetomo. Sekolah pun kemudian diresmikan pada tanggal 1 Desember 1911 (setahun sebelum berdirinya Muhammadiyah) dan diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Saat peresmian jumlah siswanya 29 orang, tapi 6 bulan kemudian sudah berkembang menjadi 62 siswa. Perkembangan sekolah semakin meningkat, hubungan Ahmad Dahlan dan beberapa orang santrinya dengan Boedi Oetomo pun makin erat. Ahmad Dahlan pun makin diperhitungkan.
Tanggal 08 Dzulhijjah 1330 H, bertepatan dengan 18 Nopember 1912 M, Muhammadiyah resmi berdiri. Surat kepada pemerintah Hindia Belanda agar mendapatkan badan hukum segera dikirimkan. Namun ternyata, surat itu baru dikabulkan tanggal 22 Agustus 1914, bernomor 81 (Gouverment Besluit). Dalam surat ini hanya diizinkan wilayah kerja Muhammadiyah untuk Residen Yogyakarta. Barulah 6 tahun kemudian (1920), lahir surat yang mengizinkan beroperasi di seluruh wilayah pulau Jawa. Disusul Besluit nomor 36, tanggal 2 September 1921, Pemerintah Belanda mengizinkan Muhammadiyah untuk seluruh wilayah Hindia Belanda atau wilayah Indonesia kini. Surat keputusan terakhir ini, dua tahun menjelang wafatnya KHA. Dahlan, pendiri Muhammadiyah. (Sumber: Muhammadiyah Selayang Pandang, Majelis Pustaka PP. Muhammadiyah)
kebo88 | kebo88 | kebo88 | slot gacor | slot gacor | slot gacor | kebo88 | slot gacor | kebo88 | slot gacor

Tinggalkan Balasan