
Sejak berdiri, Muhanınadiyah langsung dipimpin oleh KHA. Dahlan hingga wafat tahun 1923 M. Selanjutnya kepengurusan Muhammadiyah berturut-turut dilanjutkan oleh :
II. K.H. Ibrahim (1923-1932)
III. K.H. Hisjam (1932-1936)
IV. K.H. Mas Mansoor (1936-1942)
V. Ki Bagoes Hadikoesoemo (1942-1953)
VI. Buya AR. Sutan Mansyur (1953-1959)
VII. H.M. Junus Anies (1959-1962)
VIII. KHA. Badawi (1962-1968)
IX. K.H. Faqih Usman dan K.H. AR. Fakhruddin (1968-1971)
X. K.H. AR. Fakhruddin (1971-1990)
XI. KH. Ahmad Azhar Basyir, MA, dan (1990-1994)
Prof. Dr. II.M. Amien Rais, MA (1994-1995)
XII. Prof. Dr. H.M. Amien Rais, MA, dan (1995-1998)
Prof. Dr. H.A. Syafi’i Ma’arif, MA (1998-2000)
Pada periode pertama, Muhammadiyah mulai berkembang pesat sekitar tahun 1917, bersama dengan makin pudarnya pengaruh Serikat Islam dan Boedi Oetomo. Muhammadiyah berkembang, tampak dari bermunculan berbagai kelompok pengajian maupun berdirinya sekolah. Dibentuk lah untuk pertama kalinya bagian tabligh dan Bagian Pengajaran – Penilikan/Pemeriksa Pelajaran Agama. Untuk bagian terakhir ini diketuai oleh Haji Hisyam, beranggotakan untuk pertamakalinya 10 orang. Khusus untuk Penilik serta Pemeriksa Pelajaran Agama ditetapkan RH. Djalal dan RH Hadjid. Di tahun 1917 itu, konggres Boedi Oetomo sempat berlangsung di rumah KHA. Dahlan di Kauman Yogyakarta. Satu momentum yang menunjukkan keakraban Ahmad Dahlan dengan para tokoh nasional.
Formasi kepemimpinan Muhammadiyalı di awal perkembangannya, sebagaimana surat keputusan dari Pemerintah Belanda tercatat; KHA. Dahlan sebagai ketua, Haji Abdullah Siraj sebagai sekretaris dan anggotanya masing-masing; H. Ahmad, H. Abdurrahman, R.H. Syarkawi, Haji Mohammad, RH. Djaelani, Haji Anis dan Hadji Mochammad Faqih. Selama kepengurusan KHA. Dahlan sebagai ketua, telah berlangsung 10 kali kongres (kini Muktamar) untuk memilih pimpinan. Kyai Dahlan, walau lebih banyak absen, namun selama itu senantiasa dipilih untuk memimpin Muhammadiyah. Tradisi pemilihan pimpinan model: masa KHA. Dahlan ini rupanya mewarnai periode pemilihan berikutnya. Karena, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tidak selamanya dari mereka yang memperoleh suara terbanyak. Seperti yang terjadi di Muktamar Muhammadiyah ke-37 di Yogyakarta tahun 1968. Suara terbanyak saat itu pada KH. AR. Fakhruddin, namun yang dipercaya memimpin Muhammadiyah adalah KH. Faqih Usman. Hanya saja , KII. Faqih Usman tidak panjang usia. Beliau wafat, seminggu setelah menjadi ketua. Kepemimpinan Muhammadiyah pun diteruskan oleh KH. AR. Fakhruddin selaku ketua.
Pemilihan serupa itu tidak hanya di tingkat pusat. Tapi juga di tingkat Wilayah, Daerah, Cabang hingga Ranting. Muhammadiyah mengembangkan cara musyawarah, sebagaimana yang dituntunkan Islam. Kongres yang semula dilaksanakan tiap tahun, namanya menjadi Muktamar, dan diselenggarakan tiap 3 tahun, kemudian tahun sekali. Musyawarah serupa Muktamar juga dilaksanakan di tingkat Wilayah (Musywil), Daerah (Musyda), Cabang (Musycab) dan Ranting (Musyran). Musyawarah di tingkat pusat yang diselenggarakan minimal setahun sekali, disebut Tanwir. Ada pula Sidang Pleno, Sidang Pengurus Harian dan Rapat Rutin. Sedang khusus untuk membahas pelaksanaan program kerja, diadakanlah Rapat Kerja di masing-masing jenjang kepengurusan.
Lewat berbagai pertemuan dan musyawarah itulah, Muhammadiyah dikembangkan secara lebih terencana dan terarah. Muhammadiyah yang saat didirikan hanya di Yogyakarta, tahun 1918 melebar ke Solo (Surakarta) dengan berdirinya pengajian STAV (Sidiq, Amanat, Tabligh, Vathonah) dan resmi menjadi Cabang Muhammadiyah 4 tahun kemudian. Di Surabaya, tahun 1921 berdiri Cabang Muhammadiyah, dipelopori oleh KH. Mas Mansoer. Tahun 1925 Muhammadiyah juga berdiri di Kudus. Di Lampung Sumatra, tak ketinggalan berdiri Muhammadiyah tahun 1928, dipelopori oleh Muballigh dan Ustadz Haji Zaenal Arifin. Belum lagi di Bengkulu (1927), di Ternate (1928) dan masih banyak lagi yang menyusul bagai jamur di musim hujan. Sebelum wafatnya KHA. Dahlan, Cabang-cabang itu banyak yang sudah dikunjungi langsung oleh KHA. Dahlan. (Sumber: Muhammadiyah Selayang Pandang. Majelis Pustaka PP. Muhammadiyah)
kebo88 | kebo88 | kebo88 | slot gacor | slot gacor | slot gacor | kebo88 | slot gacor | kebo88 | slot gacor

Tinggalkan Balasan