
Muhammadiyah dalam perkembangannya menyerahkan garapan Sumber Daya Manusia yang dimilikinya dalam kelompok-kelompok khusus. Untuk kelompok wanita kaum ibu digarap oleh ‘Aisyiyah. Khusus Remaja kelompok Putri di luar sekolah, digarap oleh Nasyiyatul ‘Aisyiyah. Remaja putra dan putri di sekolah, digarap oleh Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) yang dulu bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Para Mahasiswa Muhammadiyah digarap oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sedangkan para pemuda pria, digarap oleh Pemuda Muhamınadiyah. Disamping itu masih ada lagi yang khusus menggarap olah raga pencak silat, yakni Tapak Suci Putra Muhammadiyah.
Organisasi Otonom ‘AISYIYAH, berdiri 27 Rajab 1335 H, bertepatan dengan 22 April 1917 M di Yogyakarta. Pada awalnya bernama Sopo Tresno , sebuah kelompok pengajian khusus kaum wanita di zaman KHA.Dahlan. Kata ‘Aisyiyah dari bahasa Arab, merupakan nama istri Nabi Muhammad saw, dan putri sahabat Abu Bakar Ash-Shiddieq. Program pertama yang dilakukan di samping pengajian, juga mengusahakan agar para wanita peserta pengajian menggunakan kerudung (tutup kepala) warna putih. Tahun 1919 mendirikan taman kanak-kanak pertama di Indonesia dengan nama Frobel. Taman kanak-kanak ini kemudian berganti nama TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK-ABA), tahun 1995 jumlahnya sudah mencapai 3.300 TK. se Indonesia. Ibu-ibu ‘Aisyiyah juga memelopori berdirinya musholla khusus putri, serta Lomba Bayi Sehat (Baby Show) pertama di Indonesia pada tahun 1934 M. ‘Aisyiyah pula yang memelopori penggunaan bahasa Indonesia dalam setiap kesempatan. Tahun 1931 ‘Aisyiyah mendirikan Nasyiatul ‘Aisyiyah sebagai kelanjutan dari urusan Siswoproyo Wanito, dalam diri organisasi ‘Aisyiyah.
NASYIATUL ‘AISYIYAH. Berdiri lewat putusan konggres ke 20 tahun 1931 di Yogyakarta. Semula bernama Siswo Proyo Wanito, yang merupakan kumpulan siswi putri di luar sekolah, berdiri sejak tahun 1919.
Nasyiatul ‘Aisyiyah berasal dari bahasa Arab, artinya tunas atau kader yang dipersiapkan untuk menggantikan ‘Aisyiyah sebagai organisasi gerakan wanita dalam Muhammadiyah. Sejak 1931 itu Nasyiatul ‘Aisyiyah berdiri di setiap Cabang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah seluruh Indonesia. Kemudian pada Muktamar Muhammadiyah ke-36 tahun 1965, diberi hak untuk menjadi organisasi otonom, hak untuk mengatur rumah tangganya sendiri.
PEMUDA MUHAMMADIYAH. Muktamar Muhammadiyah ke- 21 tahun 1932 di Makassar (kini Ujung Pandang), memutuskan berdirinya organisasi Pemuda Muhammadiyah, sebagai perkembangan dari Hizbul Wathan yang khusus menggarap ke panduan. Dengan nama Pemuda Muhammadiyah gerak Hizbul Wathan menjadi lebih luas tidak sekedar kepanduan.
Lahirnya Hizbut Wathan memang diawali dari perkumpulan Siswo Proyo Prio, seperti halnya Siswo Proyo Wanito. Kedua perkumpulan Siswo Proyo ini merupakan tempat bagi kegiatan pria (prio) dan wanita (wanito) yang saling membantu dan bekerja sama dalam ikut menggerakkan Muhammadiyah.
Disaat KHA. Dahlan seringkali ke Solo untuk mengisi pengajian STAV (Sidiq, Tabligh, Amanah, Vathonah yang kemudian menjadi Cabang Muhammadiyah di Solo), beliau terkesan pada kegiatan para pandu yang sedang berlatih di Puro Mangkunegaraan. Mereka rapi dan berdisiplin tinggi. KHA. Dahlan ingin kader-kader Muhammadiyah mempunyai kedisiplinan yang tinggi, seperti halnya yang ditanamkan dalam kepanduan. Maka dibentuklah perkumpulan pandu Hizbul Wathan dengan seragam lengkap, sebagai Pandu Muhammadiyah (Padvinder Moehammadijah). Nama Hizbul Wathan sebagai pengganti Pandu Muhaminadiyah, atas usulan KHR. Hadjid, salah seorang murid KHA. Dahlan.
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH. Berdiri tanggal 14 Maret 1964 di Yogyakarta. Bermula dari aktivitas Pemuda Muhammadiyah yang membentuk kelompok belajar (Study Group) khusus para mahasiswa yang kemudian menjadi Departemen Kemahasiswaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sejak diresmikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), maka disatukanlah segenap organisasi dan kelompok belajar para mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah dalam IMM yang berkedudukan di Yogyakarta.
Maksud dan tujuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk membentuk kader akademisi Islam dalam melaksanakan tujuan Muhammadiyah. Lambang IMM berupa penampang perisai pena berlapis tiga, warna hitam (kekuatan, ketabahan, keabadian), kuning (kemuliaan tujuan), merah (keberanian dalam berfikir, berbuat, dan bertanggungjawab).Di tengah lambang terdapat sinar matahari (simbot Muhammadiyah) dan melati (melambangkan sebagai kader muda Muhammadiyah yang suci). Sedangkan gambar pena, melambangkan orang yang menuntut ilmu yang berlapis tiga Iman, Islam dan Ihsan serta Iman, Ilmu dan Amal).
IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH. Ikatan Remaja Muhammadiyah di singkat IRM, semula bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Berdirinya IPM/IRM sejalan dengan terus berkembangnya sekolah-sekolah Muhammadiyah. Organisasi otonom ini bertujuan; “ Terbentuknya Remaja Muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.”
Berdiri dengan nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah, pada tanggal 18 Juli 1961. Dan ketika pemerintah mengatur semua organisasi pelajar yang ada di sekolah, maka tahun 1992 berubahlah IPM menjadi IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Lambangnya masih sama, berupa gambar perisai berbentuk pena dengan penampang berlapis lima (rukum Islam). Semboyannya : “Nun Wal Qalami Wama Yasturuun (Demi pena dan apa-apa yang dituliskannya),” dengan huruf Arab, di bawah gambar kitab dan berada dalam sinar Matahari. Artinya, anggota IRM dengan segala aktivitas keilmuannya bernaung dalam panji-panji Muhammadiyah.
TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH. Tapak Suci Putera Muhammadiyah merupakan organisasi bagi putra-putri Muhammadiyah yang bergerak dalam seni beladiri. Seni beladiri ini merupakan sarana dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dalam melaksanakan tujuan Muhammadiyah dan usaha mempertinggi ketahanan nasional. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, memiliki struktur dari tingkat pusat hingga paling bawah, ranting.
Berdiri tanggal 31 Juli 1963, bertepatan dengan 10 Rabiulawal lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah telah berdiri (sejak 1925) 1383 H di Yogyakarta. Jauh sebelum itu, di Kauman-kampung asal Perguruan Kauman yang diasuh Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib, murid dari KH. Busyro Banjarnegara. Dari kedua pendekar inilah lahir pula perguruan beladiri Perguruan Suronatan dan Korps Serbaguna (Kosegu). Dari unsur ketiga perguruan inilah kemudian lahir Tapak Suci.
Lambang Tapak Suci secara umum mengandung arti; bertekad bulat mengagungkan asma Allah, kekal abadi, memiliki semerbak keharuman sempurna, kesucian menunaikan Rukun Iman, Islam serta mengutamakan keeratan dengan kejujuran dan kerendahan hati.
Organisasi otonom yang terdiri dari para angkatan muda Muhammadiyah, merupakan pelopor (merintis usaha baru yang belum ada), pelangsung (melengkapi amal usaha yang sudah pernah dikerjakan) dan penyempurna (melengkapi dan menyempurnakan) amal-usaha Muhammadiyah. Dengan tugas serupa ini, Angkatan Muda Muhammadiyah akan dapat ikut aktif berbakti bagi kelangsungan segenap amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah dalam upayanya mencapai tujuan perserikatan. (Sumber: Muhammadiyah, Selayang Pandang, Majelis Pustaka PP. Muhammadiyah)
kebo88 | kebo88 | kebo88 | slot gacor | slot gacor | slot gacor | kebo88 | slot gacor | kebo88 | slot gacor

Tinggalkan Balasan